NAME :
FADILAH NUR ISFAHANY
CLASS : 4 EB 22
NPM :
22210483
9
Eksposure Dan Akuntansi Valas
A.
Ada 4 metode untuk
menstralai valas yaitu:
Metode Current Rate Pada metode ini semua item
neraca ( kecuali modal)ditranslasi pada kurs sekarang, Sedangkan akun modal
saham dan agio modal ditranslasi pada kurs historis. Pada metode ini laba dan
rugi translasi valas tidak mempengaruhi laporan hasil usaha, serta tidak
memperhatikan perbedaan sifat asset dan utang atau lama waktu atau durasi.
6.3.2.2
Metode Temporal Pada metode ini, basis pengukuran asset atau kewajiban
menentukan besarnya kurs yang digunakan dalam translasi dan Sebagian besar
pendapatan dan biaya ditranslasi dengan kurs rerata perode terkait. Metode ini
dapat digunakan untuk setiap basis ukuran( kos historis, harga pengganti
sekarang atau haraga pasar sekarang).
6.3.2.3
Metode Current/ Non-Current Prinsip-prinsip yang mendasari adalah asset dan
utang harus ditranslasi berdasarkan saat jatuh temponya. Serta berbasis pada
klasifikasi aktifa dan utang yang sepenuhnya tidak berkaitan dengan pengaruh
ekonomi dari fluktuasi kurs terhadap aktifa dan utang.
6.3.2.4 Transaksi Valas (Valuta asing)
menyebabkan timbulnya Metode Moneter / Non-Mo aksposur valas, yang disebabkan
karena terjadinya perubahan kurs. Eksposur valas yaitu aksposur transaksi,
eksposur translasi, dan eksposur ekonomi, mempunyai substansi ekonomi yang
harus diplaporkan pada laporan keuangan.
6.1. Pasar Valas dan Kurs Pasar valas
merupakan mekanisme melalui yang mana valuta suatu negara ditukarkan dengan
valuta negara lain, kurs antar valuta ditetapkan, dan transaksi antar valas
diselesaikan. Dalam hubungannya dengan lokasi fisik, pasar valas bertebaran di
seluruh dunia dan eksis jika individu-individu atau institusi-institusi saling bertukar
valuta dari negara yang berbeda-beda. Dalam hubungannya dengan waktu eksekusi,
transaksi valas dapat terjadi di Spot market dan forward market. Spot market
meliputi pembelian dan penjualan valas yang sangat segera dilaksanakan. Untuk
transaksi kecil di pasar retail, penyelesaiannya adalah segera, sedangkan untuk
transaksi besar di wholesale market butuh waktu sampai dua hari bisnis. Dalam
forward market, para partisipan mengadakan kontrak pada hari ini untuk
penyerahan,/penerimaan valas pada waktu mendatang. Perbedaan antara kurs
sekarang( spote rate) dan kurs masa mendatang( forward rate) disebut premi
(premium) jika kurs mendatang lebih mahal disbanding dengan kurs sekarang, dan
disebut dikon (discount) jika sebaliknya. Sistem moneter dunia terbentuk dari
banyak valuta nasional. Pada saat kurs mudah goyah (volatile), penting bagi
para manajer untuk waspada terhadap resiko valas dan mengmbil langkah-langkah
yang cukup untuk mengatasinya. Daya saing perusahaan terlibat dalam bisnis
internasional dapat dipengaruhi oleh fluktuasi kurs.
6.2.
Eksposur Valas Eksposur valas merupakan sebuah ukuran terhadap potensi
perubahan profitabilitas, arus kas, dan nilai pasar sebuah perusahaan yang
disebabkan oleh perubahan kurs. Eksposur valas secara konvensional diklasifikasi
menjadi 3 tipe:
1. Eksposur translasi atau eksposur akuntansi
Merupakan potensi peningkatan atau penurunan nilai bersih perusahaan induk dan
laba bersih yang dilaporkannya, yang disebabkan oleh fluktuasi kurs sejak
tanggal laporan keuangan konsolidasian periode sebelumnya. Tujuan utama
translasi adalah untuk menyusun laporan keuangan konsolidasian, translasi juga
membantu dalam mengevaluasi kinerja semua perusahaan afiliasi dimanapun dengan
mengubah angka-angka laporan ke dalam sebuah valuta umum ( yaitu valuta
perusahaan induk).
2.
Eksposure transaksi Berkaitan dengan sensitifitas arus kas kontraktual yang
dinyatakan dala valas terhadap perubahan kurs yang diukur dalam valuta domestic
perusahaan tersebut. Eksposur transaksi dapat timbul karena transaksi-transaksi
berikut:
a. Membeli atau menjual barang secara kredit
b.
Meminjam atau meminjamkan dana dalam valas
c. Terikat kontrak untuk membeli/menjual valas
pada tanggal tertentu di masa mendatang
d. Transaksi lain untuk mendapatkan asset atau
utang yang dinyatakan dalam valas.
3. Eksposur ekonomi/operasi Menaksir dampak
perubahan kurs di masa mendatang terhadap operasi perusahaan dan posisi
kompetitifnya terhadap perusahaan-perusahaan lain. Tujuannya adalah untuk
mengidentifikasi langkah-langkah strategis yang dapat diambil perusahaan untuk
meningkatkan atau mempertahankan nilai perusahaan tersebut terhadap perubahan
kurs yang tidak diduga. Eksposur ini bersifat subyektif karena adanya
ketidakpastian yang lebih besar dari variabel-variabel ekonomi dalam jangka
panjang.
6.3. Akuntansi Untuk Fluktuasi Kurs Perusahaan
yang terlibat dalam bisnis global menghadapi resiko terjadinya laba atau rugi
dari fluktuasi kurs. Tetapi untuk memahi hal tersebut ada manfaat untuk
membedakan antara transaksi asing dan transaksi valas karena tidak semua
transaksi asing dinyatakan dalam valas, sehingga tidak setiap transaksi asing
merupakan transaksi valas. Penting untuk dipahami bahwa terdapat perbedaan
atara laba dan rugi transaksi dan laba dan rugi translasi. Laba dan rugi
transaksi direalisasi dan mempengaruhi arus kas perusahaan. Dibandingkan dengan
jumlah rupiah yang diterima seandainya dibayar tunai, jumlah tersebut dapat
sama besar, lebih besar atau lebih kecil. Potensi inilah yang disebut eksposur
transaksi. Perlakuan akuntansi terhadap laba dan rugi transaksi valas yaitu
laba dan rugi tersebut harus dimasukkan ke dalam laporan hasil usaha dan
mempengaruhi laba pada periode terjadinya laba dan rugi transaksi tersebut.
6.3.1.
Akuntansi Transaksi Valas Dalam transaksi valas salah satu isu akuntansinya
adalah bagaimana transaksi tersebut harus dicatat dalam melaporkan valuta pada
tanggal terjadinya transaksi dan pada saat penyelesaiaan. Dalam transaksi
tunai, terdapat persetujuan umum bahwa transaksi harus dicatat dengan
menggunakan kurs pada tanggal transaksi( spot exchange rate). Tetapi dalam
transaksi kredit ada 2 lagi isu akuntansi yang muncul, salah satunya adalah
bagaimana melaporkan penyesuaian kurs pada tanggal pelaporan keuangan. Ada 2
pandangan mengenai apakah transaksi harus dianggap sebagai sebuah transaksi
tunggal atau 2 buah transaksi :
6.3.1.1
. Pendekatan Transaksi Tunggal Pandangan yang digunakan adalah bahwa hanya ada
satu transaksi ekonomi yang dicatat yaitu transaksi penjualan/pembelian. Sedangkan
pelunasan utang atau penerimaan pelunasan piutang valas dianggap sebagai bagian
esensial dari transaksi ekonomi untuk menjual atau membeli barang atau jasa.
6.3.1.2. Pendekatan Transaksi Ganda Dalam
pendekatan ini utang dan piutang dianggap sebgai sebuah transaksi kedua yang
berbeda atau terpisah dari transaksi asli yang berupa pembelian atau penjualan
barang atau jasa. Dalam pendekatan ini manajemen tidak dapat memperkirakan
besarnya kurs pada tanggal penyelesaian transaksi
. 6.3.2 Akuntansi Translasi Valas Pada
transaksi kredit menimbulkan masalah mengenai bagaimana melaporkan perubahan
kurs, antara kurs pada tanggal transaksi dan kurs pada tanggal penyelesaian.
Ada 2 pendapat mengenai hal ini: - pendapat pertama dilakukan penyesuaian.
Alasannya : laporan keuangan harus mencerminkan kondisi keuangan pada tanggal
transaksi atau tanggal penyesuaian. - Pendapat kedua, tidak dilakukan
penyesuaian, kurs tanggal transaksi dan kurs tanggal neraca, seperti halnya
dengan kurs pada tanggal transaksi adalah tidak nyata dan tidak direalisasi
akan berubah menjadi kurs nyata dan akan direalisasi pada tanggal penyelesaian.
neter Semua item moneter sperti ( kas,utang dan piutang) pada neraca sebuah
perusahaan anak diluar negeri ditranslasi pada tariff kurs sekarang, karena
metode ini berpersepsi bahwa item-item tersebut terpengaruh oleh resiko kurs.
Sebagian besar item laporan hasil usaha di translasi pada kurs rerata untuk
periode tersebut.
Daftar pustaka :
Referensi Buku: Sunardi dan Nanang Sunyoto.2011.Akuntansi
Internasional.Amara Book:Yogyakarta
10
PENETAPAN HARGA TRANSFER
Penetapan harga transfer
adalah penentuan harga barang dan jasa yang dijualbelikan oleh unit operasi
atau divisi dalam satu perusahaan. Harga transfer berkaitan dengan pertukaran
intra perusahaan, yaitu transaksi antara penjual dan pembeli yang bernaung di
bawah perusahaan induk yang sama. Apabila perusahaan berekspansi ke berbagai
Negara, maka penetapan transfer menjadi semakin kompleks. Dalam menentukan
harga transfer untuk cabang-cabangnya, perusahaan global harus menghadapi
sejumlah isu, termasuk di dalamnya pajak, bea cukai, dan tariff; aturan
transfer laba setempat; serta tujuan mitra usaha patungan yang kadangkala
saling bertentangan; dan regulasi pemerintah.
Ada tiga
pendekatan alternative dalam menentukan harga transfer. Penggunaan
masing-masing pendekatan bervariasi berdasarkan sifat perusahaan, produk,
pasar, dan lingkungan historis dari setiap kasus. Ketiga alternatif tersebut
meliputi :
1.
Cost-based transfer pricing
Karena
perusahaan menentukan biaya secara berbeda-beda, beberapa perusahaan yang
menggunakanpendekatan berbasis biaya bisa mendapatkan harga transfer yang hanya
mencerminkan biaya manufaktur variabel dan tetap. Cara menentukan atau
mengelompokkan biaya bisa berdampak pada tariff dan bea cukai yang dikenakan
pada kantor cabang perusahaan global. Salah satu variasi dari cost-based approach adalah cost-plus pricing. Dalam metode ini,
perusahaan berpegang bahwa laba harus diperoleh untuk semua produk atau jasa
pada setiap tahap perpindahan (movement)
yang dilalui dalam system korporasi.
2.
Market-based
Harga
transfer berbasis pasar dihitung dari harga yang diperlukan agar bisa bersaing
di pasar internasional. Kendala dalam harga ini adalah biaya. Meskipun
demikian, ada banyak variasi dalam menentukan biaya. Karena biaya umumnya
menurun seiring dengan kenaikan volume, harus ada keputusan mengenai apakah
harga akan didasarkan pada tingkat volume saat ini atau tingkat yang
direncanakan. Bila perusahaan akan menggunakan market-based transfer pricing untuk memasuki pasar baru yang
terlalu kecil untuk mendukung manufaktur local, maka sourcing dari Negara
ketiga mungkin diperlukan. Ini memungkinkan perusahaan mengembangkan nama atau
waralabanya di pasar interasional tanpa harus mengeluarkan investasi modal
besar-besaran.
3.
Negotiated Transfer Pricing
Dalam
pendekatan ini, cabang-cabang perusahaan diperkenankan menegosiasikan sendiri
harga transfer di antara mereka. Dalam beberapa kasus, harga transfer final
bisa saja mencerminkan biaya dan harga pasar, namun itu bukan merupakan suatu
keharusan. Standar pokok harga transfer negosiasi adalah arm’s length price,
yaitu harga yang dinegosiasikan dua entitas independen yang tidak saling
berkaitan.
Situasi krisis moneter dewasa ini
"memaksa" pihak manajemen perusahan untuk semakin cepat tanggap akan
perubahan lingkungan yang demikian cepat. Profesionalisme tampaknya kini
semakin dibutuhkan. Pengendalian perusahaan tidak lagi dapat dilakukan hanya
berdasarkan intuisi atau pengalaman saja, namun pengetahuan menjadi faktor
penting lain yang perlu dipadukan. Maka dalam kondisi resesi seperti yang kita
hadapi saat ini, tugas manajemen dalam mengendalikan perusahaan menjadi lebih
berat lagi. Untuk mencapai tujuan perusahaan, dibutuhkan koordinasi yang baik
dari semua fungsi manajemen.
Pada dasarnya semua fungsi tersebut
sama pentingnya sebagai suatu sistem, namun pemasaran merupakan fungsi yang
mempunyai intensitas hubungan paling besar dengan lingkungan eksternal, padahal
justru dalam lingkungan itulah perusahaan mempunyai keterbatasan yang paling
besar dalam pengendaliannya. Maka seringkali dikatakan bahwa pemasaran
merupakan urat nadi perusahaan, dalam arti sangat kritis kedudukannya dalam
menentukan kelangsungan hidup perusahaan, dan berperan penting dalam
pengembangan strategi.
Strategi pemasaran sendiri dapat
dibahas secara lebih rinci dikaitkan dengan berbagai unsur, seperti dalam
kaitannya dengan kepuasan pelanggan, dengan pasar, dengan bauran pemasaran,
dengan siklus, hidup produk, ataupun dengan pemasaran internasional. Tulisan
ini akan membahas secara spesifik konteks strategi pemasaran dalam kaitannya
dengan penetapan harga (pricing strategy), dengan menekankan pada salah satu
model penetapan harga.
Selama periode di mana pertumbuhan
ekonomi dan pendapatan meningkat, faktor non-harga sempat menjadi kunci
keberhasilan penjualan. Namun dalam tahun-tahun terakhir, seiring dengan
perubahan makro ekonomi yang mengakibatkan inflasi, pertumbuhan penduduk yang
semakin lambat, dan semakin maraknya kompetisi, maka faktor harga menjadi salah
satu problem utama yang harus dihadapi para marketer.
2.
Menejemen Kas
Pengertian
Kas
Menurut
Munawir (1983:14), pengertian kas adalah sebagai berikut:
Kas merupakan uang tunai yang dapat digunakan untuk membiayai operasi perusahaan, termasuk
dalam pengertian kas adalah cek yang diterima dari para pelanggan dan simpanan perusahaan di bank
dalam bentuk giro atau demand deposit, yaitu simpanan di bank yang dapat
diambil kembali (dengan menggunakan cek atau bilyet).
Pendapat lainnya
juga hampir sama di kemukakan oleh: Theodarus M. Tuanakotta, AK, (1982:150)
dalam bukunya Auditing Petunjuk Pemeriksaan Akuntan Publik, yaitu:
Kas dan bank
meliputi uang tunai dan simpanan-simpanan di bank yang langsung dapat diuangkan
pada setiap saat tanpa mengurangi nilai simpanan tersebut. Kas dapat terdiri
dari kas kecil atau dana-dana kas lainnya seperti penerimaan uang tunai dan
cek-cek (yang bukan mundur) untuk disetor ke bank keesokan harinya.
Dari
pendapat-pendapat tersebut diatas dapatlah di tarik kesimpulan bahwa kas adalah
seluruh uang tunai dan bentuk-bentuk lainnya yang dapat diuangkan setiap saat
apabila perusahaan membutuhkan.
Dana-Dana
yang Berbentuk Kas dan Laporannya
Untuk
menyusun dan melaporkan sumber dan penggunaan kas dapat dilakukan dengan:
a. Mengklasifikasikan perubahan-perubahan neraca yang terjadi pada dua
titik waktu di dalam perubahan yang menaikkan dan menurunkan kas.
b. Mengklasifikasikan dari laporan rugi laba dan perubahan laba di tahan
ke dalam faktor-faktor yang meningkatkan dan menurunkan laba.
Terdapat
tiga motif utama seseorang atau perusahaan dalam memegamg uang kas :
1) Motif transaksi: kas diperlukan untuk memenuhi pembayaran-pembayaran
yang timbul dari kegiatan-kegiatan bisnis sehari hari
2) Motif berjaga-jaga; kas diperlukan untuk berjaga-jaga apabila terjadi
kebutuhan pembayaran kas yang tak terduga
3) Motif spekulasi; kas diperlukan untuk melakukan transaksi spekulasi
agar mendapat keuntungan jika ada peluang jangka pendek.
Tips-tips
cara pengelolaan kas :
1. Pengurangan waktu penagihan piutang, yaitu waktu yang diperlukan
untuk prosedur penagihan diusahakan secepat mungkin.
2. Pengurangan waktu pengumpulan kas, misalnya dengan proses otomatisasi
perbankan
3. Pengendalian pengeluaran kas secara mudah dan tepat waktu dengan
pemusatan utang dalam satu atau beberapa rekening.
4. Mebentuk prosedur operasional pembayaran kas
5. memperlambat pembayaran dengan PTD (payble trough draft seperti cek
mundur.
Faktor-faktor
yang mempengaruhi besar kecilnya persediaan kas :
1. Perimbangan antara cash inflow dan cash outflow
2. Penyimpangan terhadap aliran kas yang diperkirakan
3. Adanya hubungan financial yang baik dengan bank-bank
4. Penganggaran kas
Tujuan
utama manajemen risiko keuangan adalah untuk meminimalkan potensi kerugian yang
timbul dari perubahan tak terduga dalam harga mata uang, kredit, komoditas, dan
ekuitas. Resiko volatilitas harga yang dihadapi ini disebut dengan resiko
pasar. Risiko pasar terdapat dalam berbagai bentuk. Meskipun volatilitas harga
atau tingkat, akuntan manajemen perlu mempertimbangkan resiko lainnya:
1.
Risiko likuiditas, timbul karena tidak semua produk manajemen dapat
diperdagangkan secara bebas.
2.
Diskontinuitas pasar, mengacu pada risiko bahwa pasar tidak selalu menimbulkan
perubahan harga secara bertahap,
3.
Risiko kredit, merupakan kemungkinan bahwa pihak lawan dalam kontrak manajemen
risiko tidak dapat memenuhi kewajibannya,
4.
Risiko regulasi, adalah risiko yang timbul karena pihak otoritas public
melarang penggunaan suatu produk keuangan untuk tujuan tertentu,
5.
Risiko pajak, merupakan risiko bahwa transaksi lindung nilai tertentu tidak
dapat memperoleh perlakuan pajak yang diinginkan, dan
6.
Risiko akuntansi, adalah peluang bahwa suatu transaksi lindung nilai tidak
dapat dicatat selain bagian dari transaksi yang hendak dilindung nilai.
v MENGAPA MENGELOLA RISIKO KEUANGAN
Pertama,
manajemen eksposur membantu dalam menstabilkan ekspektasi arus kas perusahaan.
Manajemen eksposur yang aktif memungkinkan perusahaan untuk berkonsentrasi pada
risiko bisnisnya yang utama. Para pemberi saham, karyawan, dan pelanggan juga
memperoleh manfaat dari manajemen eksposur. Pemberi pinjaman umumnya memiliki
toleransi risiko lebih rendah dibandingkan dengan pemegang saham, sehingga
membatasi eksposur perusahaan untuk menyeimbangkan kepentingan pemegang saham
dan pemegang obligasi.
v PERANAN AKUNTANSI
Akuntansi manajemen memainkan peran
yang penting dalam proses risiko manajemen. Mereka membantu dalam
mengidentifikasikan eksposur pasar, mengkuantifikasi keseimbangan yang terkait
dengan strategi respons risiko alternative, mengukur potensi yang dihadapi
perusahaan terhadap risiko tertentu, mencatat produk lindung nilai tertentu dan
mengevaluasi program lindung nilai.
Kerangka dasar yang bermanfaat untuk mengidentifikasi berbagai jenis risiko market berpotensi dapat disebut sebagai pemetaan risiko. Kerangka ini diawali dengan pengamatan atas hubungan berbagai risiko pasar terhadap pemicu nilai suatu perusahaan dan pesaingnya. Pemicu nilai mengacu pada kondisi keuangan dan pos-pos kinerja operasi keuangan utama yang mempengaruhi nilai suatu perusahaan. Risiko pasar mencakup risiko kurs valuta asing dan suku bunga, serta risiko harga komoditas dan ekuitas. Mata uang Negara sumber pembelian mengalami penurunan nilai relative terhadap mata uang Negara domnestik, maka perubahan ini dapat menyebabkan pesaing domestic mampu menjual dengan harga yang lebih rendah, ini disebut sebagai risiko kompetitif mata uang yang dihadapi. Akuntan manajemen harus memasukkan suatu fungsi demikian probabilitas yang terkait dengan serangkaian hasil keluaran masing-masing pemicu nilai. Peran lain yang dimainkan oleh para akuntan dalam proses manajemen resiko meliputi proses kuantifikasi penyeimbangan yang berkaitan dengan alternative strategi respon risiko. Risiko kurs valuta asing adalah salah satu bentuk risiko yang paling umum dan akan dihadapi oleh perusahaan multinasional. Di dalam dunia kurs mengambang, manajemen risiko mencakup:
Kerangka dasar yang bermanfaat untuk mengidentifikasi berbagai jenis risiko market berpotensi dapat disebut sebagai pemetaan risiko. Kerangka ini diawali dengan pengamatan atas hubungan berbagai risiko pasar terhadap pemicu nilai suatu perusahaan dan pesaingnya. Pemicu nilai mengacu pada kondisi keuangan dan pos-pos kinerja operasi keuangan utama yang mempengaruhi nilai suatu perusahaan. Risiko pasar mencakup risiko kurs valuta asing dan suku bunga, serta risiko harga komoditas dan ekuitas. Mata uang Negara sumber pembelian mengalami penurunan nilai relative terhadap mata uang Negara domnestik, maka perubahan ini dapat menyebabkan pesaing domestic mampu menjual dengan harga yang lebih rendah, ini disebut sebagai risiko kompetitif mata uang yang dihadapi. Akuntan manajemen harus memasukkan suatu fungsi demikian probabilitas yang terkait dengan serangkaian hasil keluaran masing-masing pemicu nilai. Peran lain yang dimainkan oleh para akuntan dalam proses manajemen resiko meliputi proses kuantifikasi penyeimbangan yang berkaitan dengan alternative strategi respon risiko. Risiko kurs valuta asing adalah salah satu bentuk risiko yang paling umum dan akan dihadapi oleh perusahaan multinasional. Di dalam dunia kurs mengambang, manajemen risiko mencakup:
(1) antisipasi pergerakan kurs,
(2) pengukuran risiko kurs valuta
asing yang dihadapi perusahaan,
(3) perancangan strategi
perlindungan yang memadai, dan
(4) pembuatan pengendalian manajemen
risiko internal.
Manajer keuangan harus memiliki
informasi mengenai kemungkinan arah, waktu, dan magnitude perubahan kurs dan
dapat menyusun ukuran-ukuran defensive memadai dengan lebih efisien dan
efektif. Potensi terhadap risiko valas timbul apabila perubahan kurs valas juga
mengubah nilai aktiva bersih, laba, dan arus kas suatu perusahaan. Pengukuran
akuntansi tradisional terhadap potensi risiko valas ini berpusat pada dua jenis
potensi risiko: translasi dan transaksi.
Potensi risiko translasi mengukur pengaruh perubahan kurs valas terhadap nilai ekuivalen mata uang domestik atas aktiva dan kewajiban dalam mata uang asing yang dimiliki oleh perusahaan. Karena jumlah dalam mata uang asing umumnya ditranslasikan ke dalam nilai ekuivalen mata uang domestik untuk tujuan pengawasan manajemen atau pelaporan keuangan eksternal, pengaruh translasi itu menimbulkan dampak langsung terhadap laba yang diinginkan. Kelebihan antara aktiva terpapar resiko dengan kewajiban terpapar (yaitu pos-pos dalam mata uang asing yang ditranslasikan berdasarkan kurs kini) menyebabkan timbulnya posisi aktiva terpapar bersih. Posisi ini sering disebut potensi risiko positif. Devaluasi mata uang asing relatif terhadap mata uang pelaporan menimbulkan kerugian translasi. Revaluasi mata uang asing menghasilkan keuntungan translasi. Sebaliknya, jika perusahaan memiliki posisi kewajiban terpapar bersih atau potensi risiko negatif apabila kewajiban terpapar melebihi aktiva terpapar. Dalam kasus ini, devaluasi mata uang asing menyebabkan timbulnya keuntungan translasi. Revalusi mata uang asing menyebabkan kerugian translasi.
Potensi risiko transaksi, berkaitan dengan keuntungan dan kerugian nilai tukar valuta asing yang timbul dari penyelesaian transaksi yang berdenominasi dalam mata uang asing. Keuntungan dan kerugian transaksi memiliki dampak langsung terhadap arus kas. Laporan potensi risiko transaksi berisi pos-pos yang umumnya tidak muncul dalam laporan keuangan konvensional, tetapi menimbulkan keuntungan dan kerugian transaksi seperti kontrak forward mata uang asing, komitmen pembelian dan penjualan masa depan dan sewa guna usaha jangka panjang.
Potensi risiko translasi mengukur pengaruh perubahan kurs valas terhadap nilai ekuivalen mata uang domestik atas aktiva dan kewajiban dalam mata uang asing yang dimiliki oleh perusahaan. Karena jumlah dalam mata uang asing umumnya ditranslasikan ke dalam nilai ekuivalen mata uang domestik untuk tujuan pengawasan manajemen atau pelaporan keuangan eksternal, pengaruh translasi itu menimbulkan dampak langsung terhadap laba yang diinginkan. Kelebihan antara aktiva terpapar resiko dengan kewajiban terpapar (yaitu pos-pos dalam mata uang asing yang ditranslasikan berdasarkan kurs kini) menyebabkan timbulnya posisi aktiva terpapar bersih. Posisi ini sering disebut potensi risiko positif. Devaluasi mata uang asing relatif terhadap mata uang pelaporan menimbulkan kerugian translasi. Revaluasi mata uang asing menghasilkan keuntungan translasi. Sebaliknya, jika perusahaan memiliki posisi kewajiban terpapar bersih atau potensi risiko negatif apabila kewajiban terpapar melebihi aktiva terpapar. Dalam kasus ini, devaluasi mata uang asing menyebabkan timbulnya keuntungan translasi. Revalusi mata uang asing menyebabkan kerugian translasi.
Potensi risiko transaksi, berkaitan dengan keuntungan dan kerugian nilai tukar valuta asing yang timbul dari penyelesaian transaksi yang berdenominasi dalam mata uang asing. Keuntungan dan kerugian transaksi memiliki dampak langsung terhadap arus kas. Laporan potensi risiko transaksi berisi pos-pos yang umumnya tidak muncul dalam laporan keuangan konvensional, tetapi menimbulkan keuntungan dan kerugian transaksi seperti kontrak forward mata uang asing, komitmen pembelian dan penjualan masa depan dan sewa guna usaha jangka panjang.
v PERLAKUAN AKUNTANSI
FASB menerbitkan FAS No 133, yang
diklarifikasi melalui FAS 149 pada bulan April 2003, untuk memberikan
pendekatan tunggal yang komprehensif atas akuntansi untuk transaksi derivative
dan lindung nilai. Provisi dasar standar ini adalah:
a. seluruh instrument derivative dicatat pada neraca sebagai aktiva dan kewajiban,
b. keuntungan dan kerugian dari perubahan dalam nilai wajar instrument derivative bukankan aktiva atau kewajiban,
a. seluruh instrument derivative dicatat pada neraca sebagai aktiva dan kewajiban,
b. keuntungan dan kerugian dari perubahan dalam nilai wajar instrument derivative bukankan aktiva atau kewajiban,
c. lindung nilai haruslah sangat
efektif agar layak mendapatkan perlakuan akuntansi khusus, yaitu keuntungan
atau kerugian atas instrument lindung niai secara tepat harus mengimbangi
keuntungan dan kerugian sesuatu yang dilindungi nilai
d. hubungan lindung nilai haruslah terdokumentasi secara lengkap demi manfaat pembaca laporan
d. hubungan lindung nilai haruslah terdokumentasi secara lengkap demi manfaat pembaca laporan
e. keuntungan atau keruhian dari
investasi bersih dalam mata uang asing pada awalnya dicatat dalam laba
komprehensif lainnya
f. keuntungan atau kerugian lindung
nilai terhadap arus kas masa depan yang belum pasti, seperti perkiraan
penjualan ekspor, pada awalnya diakui sebagai bagian dari laba komprehensif.
Proses pencapaian tujuan tidak lepas
dari hambatan atau kendala yang akan menghalangi pencapaian tujuan tersebut.
MNC sebagai sebuah perusahaan yang beroperasi di banyak negara harus mampu
melimpahkan wewenang kepada manajer anak perusahaan yang ada di luar negeri.
Biaya dari kondisi ini dikenal dengan nama agency cost. Agency cost pada
perusahaan MNC lebih besar daripada agency cost pada perusahaan domestik.
Perbedaan ini dapat terjadi karena beberapa hal seperti, sulitnya memonitor
manajer-manajer dari anak-anak perusahaan yang letaknya jauh dari negara asal.
Manajer-manajer anak perusahaan luar negeri yang tumbuh dalam budaya yang
berbeda mungkin tidak mau mengejar tujuan yang seragam. Besarnya ukuran dari
perusahaan multinasional raksasa juga menciptakan agency cost yang besar.
Besarnya agency cost bervariasi menurut gaya manajemen suatu perusahaan
multinasional. Gaya manajemen terpusat bias mengurangi agency cost karena gaya
semacam ini memungkinkan manajer-manajer perusahaan induk untuk mengontrol anak
perusahaan di luar negeri, sehingga mengurangi kekuasaan manajer-manajer anak
perusahaan. Akan tetapi, manajer-manajer perusahaan induk mungkin tidak sebaik
manajer-manajer anak perusahaan karena manajer-manajer perusahaan induk kurang
memiliki pengetahuan tentang lingkungan anak perusahaan. Sebaliknya, gaya
manajemen terdesentralisasi bias menimbulkan agency cost yang lebih besar jika
manajer-manajer anak perusahaan membuat keputusan-keputusan yang tidak
dilandasi oleh tujuan memaksimumkan nilai perusahaan induk secara keseluruhan.
Gaya manajemen ini memiliki kelebihan lain, yaitu dekatnya manajer-manajer anak
perusahaan ke operasi dan lingkungan anak perusahaan.
Adanya untung-rugi dari pemakaian salah satu gaya manajemen di atas, sejumlah perusahaan multinasional berupaya untuk memanfaatkan keunggulan dari kedua gaya manajemen tersebut. Perusahaan induk memperbolehkan manajer-manajer anak perusahaan membuat keputusan-keputusan penting mengenai operasi mereka sendiri, tetapi tetap dimonitor oleh manajemen perusahaan induk untuk menjamin agar keputusan-keputusan tersebut harmonis dengan tujuan perusahaan induk.
Selain agency cost, ada beberapa kendala yang dialami oleh perusahaan MNC seperti, kendala lingkungan, kendala regulatori, dan kendala etika. Kendala lingkungan dapat dilihat dari perbedaan karakteristik tiap negara. Kendala regulatori berupa perbedaan peraturan setiap negara yang ada seperti, pajak, aturan-aturan konversi valuta, serta peraturan-peraturan lain yang dapat mempengaruhi arus kas anak perusahaan. Kendala etika sendiri digambarkan sebagai suatu praktek bisnis yang berbeda-beda di tiap negara.
MNC, dalam melakukan bisnis internasionalnya, secara umum dapat menggunakan metode-metode berikut.
Adanya untung-rugi dari pemakaian salah satu gaya manajemen di atas, sejumlah perusahaan multinasional berupaya untuk memanfaatkan keunggulan dari kedua gaya manajemen tersebut. Perusahaan induk memperbolehkan manajer-manajer anak perusahaan membuat keputusan-keputusan penting mengenai operasi mereka sendiri, tetapi tetap dimonitor oleh manajemen perusahaan induk untuk menjamin agar keputusan-keputusan tersebut harmonis dengan tujuan perusahaan induk.
Selain agency cost, ada beberapa kendala yang dialami oleh perusahaan MNC seperti, kendala lingkungan, kendala regulatori, dan kendala etika. Kendala lingkungan dapat dilihat dari perbedaan karakteristik tiap negara. Kendala regulatori berupa perbedaan peraturan setiap negara yang ada seperti, pajak, aturan-aturan konversi valuta, serta peraturan-peraturan lain yang dapat mempengaruhi arus kas anak perusahaan. Kendala etika sendiri digambarkan sebagai suatu praktek bisnis yang berbeda-beda di tiap negara.
MNC, dalam melakukan bisnis internasionalnya, secara umum dapat menggunakan metode-metode berikut.
1. Perdagangan internasional
2. Licensing
3. Franchising
4. Usaha patungan
5. Akuisisi perusahaan
6. Pembentukan anak perusahaan baru
di luar negeri
Metode-metode bisnis internasional
meminta investasi langsung dalam operasi operasinya di luar negeri atau lebih
dikenal dengan sebutan Direct Foreign Invesment. Perdagangan internasional dan
pemberian lisensi biasanya tidak dianggap sebagai DFI karena keduanya tidak
melibatkan investasi langsung dalam operasi di luar negeri. Franchising dan
usaha patungan cenderung meminta investasi langsung, tetapi dalam jumlah
relatif kecil. Akuisisi dan pendirian anak perusahaan baru merupakan elemen DFI
yang paling besar.
Berbagai peluang serta keuntungan sebuah MNC tidak lepas dari risiko yang akan muncul. Walaupun bisnis internasional dapat mengurangi exposure sebuah MNC terhadap kondisi-kondisi ekonomi negara asalnya, bisnis internasional biasanya juga meningkatkan exposure MNC terhadap pergerakan nilai tukar, kondisi ekonomi luar negeri, dan risiko politik. Sebagian besar bisnis internasional meminta pertukaran satu valuta dengan valuta yang lain untuk melakukan pembayaran. Karena nilai tukar terus berfluktuasi, jumlah kas yang dibutuhkan untuk melakukan pembayaran juga tidak pasti. Konsekuensinya, jumlah unit valuta negara asal yang dibutuhkan untuk membayar bisa berubah walaupun pemasoknya tidak mengubah harga. Selain itu, ketika perusahaan multinasional memasuki pasar asing untuk menjual produk, permintaan atas produk tersebut tergantung pada kondisi-kondisi ekonomi dalam pasar tersebut. Jadi, arus kas perusahaan multinasional dipengaruhi oleh kondisi-kondisi ekonomi luar negeri. Risiko potik sendiri muncul pada saat perusahaan multinasional membentuk anak perusahaan di Negara lain, mereka terbuka terhadap risiko politik, yaitu tindakan-tindakan politik yang diambil oleh pemerintah yang dapat mempengaruhi arus kas perusahaan.
Berbagai peluang serta keuntungan sebuah MNC tidak lepas dari risiko yang akan muncul. Walaupun bisnis internasional dapat mengurangi exposure sebuah MNC terhadap kondisi-kondisi ekonomi negara asalnya, bisnis internasional biasanya juga meningkatkan exposure MNC terhadap pergerakan nilai tukar, kondisi ekonomi luar negeri, dan risiko politik. Sebagian besar bisnis internasional meminta pertukaran satu valuta dengan valuta yang lain untuk melakukan pembayaran. Karena nilai tukar terus berfluktuasi, jumlah kas yang dibutuhkan untuk melakukan pembayaran juga tidak pasti. Konsekuensinya, jumlah unit valuta negara asal yang dibutuhkan untuk membayar bisa berubah walaupun pemasoknya tidak mengubah harga. Selain itu, ketika perusahaan multinasional memasuki pasar asing untuk menjual produk, permintaan atas produk tersebut tergantung pada kondisi-kondisi ekonomi dalam pasar tersebut. Jadi, arus kas perusahaan multinasional dipengaruhi oleh kondisi-kondisi ekonomi luar negeri. Risiko potik sendiri muncul pada saat perusahaan multinasional membentuk anak perusahaan di Negara lain, mereka terbuka terhadap risiko politik, yaitu tindakan-tindakan politik yang diambil oleh pemerintah yang dapat mempengaruhi arus kas perusahaan.
11
DISCLOSURE
A. Pengertian Disclosure/
Pengungkapan Laporan Keuangan Pengungkapan
laporan keuangan dalam arti luas berarti penyampaian (release)
informasi. Sedangkan menurut para akuntansi memberi pengertian secara terbatas
yaitu penyampaian informasi keunagan tentang suatu perusahaan di dalam laporan
keuangan biasanya laporan tahunan. Laporan tahunan (Annual Report) media
utama penyampaian informasi oleh manajemen kepada pihak-pihak di luar
perusahaan. Laporan tahunan mengkomunikasikan kondisi keuangan dan informasi
lainnya kepada pemegang saham, kreditor, dan stakeholders llainnya.
Laporan tahunan merupakan mencakup hal-hal seperti pembahasan dan analisis
manajemen, catatan kaki dan laporan pelengkap. Sehingga dalam laporan tahunan
lah diketahui seberapa kuat informasi pengungkapan yang diajukan oleh
perusahaan.
B.
Jenis-Jenis Discloure / Pengungkapan Laporan Keuangan
Pengungkapan laporan keuangan dapat
dilakukan dalam bentuk penjelasan mengenai kebijakan akuntansi yang ditempuh,
kontijensi, metode persediaan, jumlah saham yang beredar dan ukuran alternatif,
misalnya pos-pos yang dicatat berdasarkan historical cost.
Adapun jenis pengungkapan yang
digunakan perusahaan untuk memberikan informasi kepada stakeholders berupa :
a. Pengungkapan
Wajib (Mandatory Disclosure)
Pengungkapan
ini merupakan pengungkapan informasi yang diharuskan oleh peraturan yang
berlaku, dalam hal ini peraturan dikeluarkan oleh Badan Pengawas Pasar Modal
(Bapepam), namun sebelum dikeluarkan keputusan Ketua Bapepam Nomor 38/PM/1996
tanggal 17 Januari 1996 mengenai laporan tahunan bahwa yang dimaksud dengan
pengungkapan wajib adalah meliputi semua pengungkapan informasi dalam laporan
keuangan.
b. Pengungkapan
Sukarela
Pengungkapan
sukarela adalah pengungkapan informasi yang dilakukan secara sukarela oleh
perusahaan tanpa diharuskan oleh peraturan yang berlaku atau pengungkapan
melebihi yang diwajibkan.
Perusahaan akan melakukan
pengungkapan melebihi kewajiban pengungkapan minimal jika mereka merasa
pengungkapan semacam itu akan menurunkan biaya modalnya atau jika mereka tidak
ingin ketinggalan praktik-praktik pengungkapan yang kompetitif. Sebaliknya,
perusahaan-perusahaan akan mengungkapkan lebih sedikit apabila mereka merasa
pengungkapan keuangan akan menampakkan rahasia kepada pesaing atau menampakkan
sisi buruk perusahaan di depan berbagai pihak.
Dengan adanya pengungkapan sukarela
ini maka upaya untuk berkomunikasi secara efektif dengan pembaca-pembaca asing,
karena tidak adanya standar akuntansi di pelaporan yang diterima secara
internasional.
C. Tujuan
dan Manfaat dari disclosure / pengungkapan laporan keuangan
1. Tujuan
Perusahaan besar umumnya menjadi
sorotan banyak pihak, baik dari masyarakat secara umum maupun pemerintah,
perusahaan dengan ukuran yang lebih besar relatif lebih diawasi oleh
lembaga-lembaga pemerintah, sehingga mereka berupaya menyajikan pengungkapan
yang lebih baik untuk dapat meminimalisasi tekanan-tekanan pemerintah. Oleh
karena itu, perusahaan besar tersebut dituntut untuk mengungkapkan informasi
yang lebih banyak daripada perusahaan kecil. Informasi itu sekaligus menjadi
bahan untuk keperluan pengungkapan informasi kepada pihak eksternal, sehingga
tidak perlu ada tambahan biaya yang besar untuk dapat melakukan pengungkapan
dengan lebih lengkap. Perusahaan besar berkemungkinan memperoleh keuntungan-keuntungan
dengan mengungkapkan informasi yang memadai dalam laporan tahunan, misalnya
kemudahan untuk memasarkan saham dan kemudahan memperoleh dana dari pasar
modal. Sedangkan perusahaan kecil umumnya sulit untuk mendapatkan dana dari
pasar modal, mengingat pembatasan ukuran aset bila terjun ke bursa, sehingga
perusahaan kecil tidak dapat menikmati keuntungan dari pengungkapan informasi
yang memadai.
Adapun yang menjadi tujuan dari
pengungkapan dinyatakan sebagai berikut :
- Untuk menguraikan hal-hal yang diakui dan memberikan pengukuran yang relevan atas hal-hal tersebut di luar pengukuran yang digunakan dalam laporan keuangan.
- Untuk menguraikan hal-hal yang diakui dan untuk memberikan pengukuran yang bermanfaat.
- Untuk memberikan informasi yang akan membantu investor dan kreditor menilai resiko dan potensial dari hal-hal yang diakui dan tidak diakui.
- Untuk memberikan informasi penting yang memungkinkan para pengguna laporan keuangan untuk melakukan perbandingan dalam satu tahun dan diantara beberapa tahun.
- Untuk memberikan informasi mengenai arus kas atau keluar dari masa depan.
- Untuk membantu para investor menilai pengembalian dari investasi mereka.
2. Manfaat
Tujuan dari pengungkapan oleh
perusahaan bermanfaat untuk beberapa kepentingan yaitu oleh perusahaan pencari
laba (profit making interpreise) berdasarkan pada tiga kategori kepentingan
yaitu kepentingan perusahaan, kepentingan investor, dan kepentingan nasional.
Adapun penjelasannya sebagai berikut
:
- Manfaat bagi kepentingan perusahaan adalah dapat diperoleh biaya modal yang lebih rendah yang berkaitan dengan berkurangnya resiko informasi bagi investor dan kreditur. Dengan demikian investor dan kreditor bersedia membeli sekuritas dengan harga tinggi, akibat dari harga sekuritas yang tinggi tersebut biaya modal perusahaan menjadi rendah.
- Bagi investor pengungkapan bermanfaat untuk mengurangi resiko informasi berupa pengurangan kesalahan pembuatan keputusan investasi. Sehingga investor menjadi lebih percaya kepada perusahaan yang memberikan pengungkapan secara lengkap, akibatnya sekuritas perusahaan menjadi lebih menarik bagi banyak investor dan harganya akan naik.
- Bagi kepentingan Nasional, yaitu berupa adanya biaya modal perusahaan yang rendah dan berkurangnya risiko informasi yang dihadapi investor. Dengan diperolehnya biaya modal yang lebih rendah oleh perusahaan, pertumbuhan ekonomi dapat meningkat, kesempatan kerja meluas, dan pada akhirnya standar kehidupan secara nasional akan meningkat pula. Dengan berkurangnya resiko informasi yang dihadapi investor, pasar modal menjadi likuid. Likuiditas pasar modal ini diperlukan oleh perekonomian nasional karena dapat membantu alokasi modal secara efektif.
Referensi
12
ANALISIS
LAPORAN KEUANGAN INTERNASIONAL
� PELUANG DAN TANTANGAN DALAM ANALISIS LINTAS BATAS
Sejumlah negara memiliki perbedaan yang sangat besar dalam
praktik akuntansi, kualitas pengungkapan, sistem hukum dan undang-undang, sifat
dan ruang lingkup risiko usaha, dan cara untuk menjalankan usaha. Perbedaan ini
berarti alat-alat analisis yang sangat efektif di satu wilayah menjadi kurang
efektif diwilayah lain. Para analisis juga sering menghadapi tantangan besar
untuk memperoleh informasi yang kredibel. Di kebanyakna pasar berkembang, para
analisis keuangan sering memiliki tingkat keyakinan atau keandalan yang
terbatas
Analisis dan penilaian keuangan internasional ditandai
dengan banyaknya kontrakdiksi. Disatu sisi, begitu cepatnya proses harmonisasi
standar akuntansi telah mengarah pada semakin meningkatnya daya banding
informasi keuangan di seluruh dunia. Analisis strategi bisnis merupakan langkah
penting pertama dalam analisis pelaporan keuangan. Analisis ini memberi
pemahaman kualitatif atas perusahaan dan para pesaingnya terkait dengan
lingkungan ekonominya. Dengan mengidentifikasi faktor pendorong laba dan resiko
usaha yang utama, analisis strategi bisnis atau usaha akan membantu para
analisis untuk membuat peramalan yang realitis.
Globalisasi pasar modal, kemajuan dalam tekologi informasi
dan kompetisi antar pemerintah nasional, bursa efek dan perusahaan-perusahaan
untuk menarik investor, dan kegiatan perdangan yang meningkat masih terus
berlanjut. Secara bersama-sama kekuatan ini memberikan insentif bagi perusahaan
untuk memperbaiki praktik pelaporan keuangan eksternal mereka.
Globalisasi dan perbaikan dalam akuntansi dan pengungkapan
internasional yang masih berlanjut mengaburkan perbedaan antara analisis
keuangan lintas batas dan dalam suatu wilayah.
�
LANGKAH-LANGKAH ANALISIS AKUNTANSI
Tujuan analisis akuntansi adalah untuk menganalisis sejarah
mana hasil yang dilaporkan perusahaan mencerminkan realitas ekonomi. Para
analisis perlu untuk mengevaluasi kebijakan dan estimasi akuntansi, serta
menganalisis sifat dan ruang lingkup fleksibelitas akuntansi suatu perusahaan.
Para manajer perusahaan diperbolehkan untuk membuat banyak pertimbanan yang
terkait dengan akuntansi, karena merekalah yang tahu lebih banyak mengenai
kondisi operasi dan keuangan perusahaan. Laba yang dilaporkan seringkali
digunakan sebagai dasar evaluasi kinerja manajemen mereka.
Langkah-langkah dalam melakukan evaluasi kualitas
akuntansi suatu perusahaan:
1. Identifikasikan kebijakan
akuntansi utama
2. Analisis fleksibilitas
akuntansi
3. Evaluasi strategi akuntansi
4. Evaluasi kualitas
pengungkapan
5. Indentifikasi potensi
terjadinya masalah
6. Buatlah penyesuaian atas
distorsi akuntansi
�
KERANGKA DASAR ANALISIS USAHA
Keangka
dasar memiliki empat tahap analisis, yaitu:
1. analisis strategi usaha
2. analisis akuntansi
3. analisis keuangan (analisis
rasio dan arus kas)
4. analisis prospektif (peramalan
dan penilaian)
�
ANALISIS STRATEGI USAHA
INTERNASIONAL
Analisis strategi merupakan langkah pertama dalam analisis
laopran keuangan. Analisis strategi sering mengalami kesulitan dalam lingkungan
internasional. Sebagaimana yang disebutkan sbelumnya, pendorong keuntungan yang
utama dan jenis-jenis resiko usaha berbeda-beda di tiap negara. Banyak resiko
seperti resiko aturan, resiko kurs valuta asing, resiko kredit.
1. Ketersediaan Informasi
analisis strategi usaha sulit dilakukan khususnya dibeberapa
negara karena kurang andalnya informasi mengenai perkembangan makro ekonomi.
Memperoleh informasi yang sulit dilaukan dibeberapa negara dan jumlah serta
kualitas informasi perusahaan sangat berbeda-beda. Ketersediaan informasi
khusus mengenai perusahaaan sangat rendah dibanyak negara berkembang.
2. Rekomendasi untuk melakukan
analisis
Keterbatasan data membuat upaya untuk melakukan analisis
strategi usaha dengan menggunakan metode riset tradisional menjadi sukar
dilakukan. World Wide Web juga menawarkan akses cepat terhadap informasi yang
hingga ini masih belum tersedia secara atau sukar untuk diperoleh secara
gratis.
� PENGGUNAAN WEBSITE UNTUK MEMPEROLEH INFORMASI PENELITIAN
PERUSAHAAN
1. Mayoritas perusahaan Web
site tersendiri dan mayoritas memanfaatkan homepage mereka untuk
menginformasikan informasi keuangan terutama laporan keuangan pokok yaitu
neraca dan laba rugi. Tidak banyak, kurang dari 40% perusahaan yang memberikan
informasi keuangan tambahan (catatan atas laporan keuangan, pendapat auditor
dan analisis manajemen).
2. Mayoritas perusahaannya
memberikan duplikasi informasi atau sebagian dari informasi hard copy laporan
historis yang diubah dalam bentuk hyperttext atau format pdf.
3. Tidak banyak perusahaan
yang benar-benar memanfaatkan fitur internet secara optimal. Hal ini terbukti
dari 10% dari perusahaan sampel yang menampaikan informasi mengenai pergerakan
saham. Disamping itu, meskipun mayoritas home page menampilkan press release,
tetapi kurang dari 35 % yang melakukan update atas informasi yang ditampilkan.
Sumber:
Choi
D.S. Frederick & Meek K. Gary. 2005. Akuntansi Internasional, Edisi 5 Buku
1. Jakarta: Salemba Empat
13
LAPORAN
KEUANGAN
E PENGERTIAN LAPORAN KEUNGAN
Laporan keuangan adalah catatan
informasi keuangan suatu perusahaan pada suatu periode
akuntansi yang
dapat digunakan untuk menggambarkan kinerja perusahaan tersebut. Laporan
keuangan adalah bagian dari proses pelaporan keuangan. Laporan keuangan yang lengkap biasanya
meliputi :
1. Laporan
Laba Rugi
yaitu laporan mengenai pendapatan,
beban, dan laba atau rugi suatu perusahaan dalam suatu periode tertentu.
2. Laporan
Perubahan Modal
yaitu laporan yang menyajikan
perubahan modal karena penambahan dan pengurangan dari laba/rugi dan transaksi
pemilik.
3. Neraca
yaitu laporan yang menggambarkan
posisi keuangan dari suatu perusahaan yang meliputi aktiva, kewajiban dan
ekuitas pada suatu saat tertentu.
4. Laporan
Arus Kas
yaitu laporan yang menggambarkan
penerimaan dan pengeluaran kas selama satu periode tertentu. Laporan Arus Kas
akan dibahas dalam bab tersendiri..
E JENIS LAPORAN KEUANGAN
1. Laporan Keuangan (Financial
Statements)
Laporan Keuangan adalah informasi keuangan yang disajikan dan disiapkan
oleh manajemen dari suatu perusahaan kepada pihak internal dan eksternal, yang
berisi seluruh kegiatan bisnis dari satu kesatuan usaha yang merupakan salah
satu alat pertanggungjawaban dan komunikasi manajemen kepada pihak-pihak yang
membutuhkannya. Laporan keuangan merupakan seperangkat laporan keuangan formal
(full set) yang terdiri dari:
2. Neraca (balance sheet),
yang menggambarkan posisi keuangan dari satu kesatuan usaha yang merupakan
keseimbangan antara aktiva (assets), utang (liabilities), dan modal (equity)
pada suatu tanggal tertentu.
3. Laporan laba rugi (income statement)
merupakan ikhtisar dari seluruh pendapatan dan beban dari satu kesatuan
usaha untuk satu periode tertentu.
4. Laporan perubahan ekuitas (statement of
change of equity)
adalah laporan perubahan modal dari satu kesatuan usaha selama satu periode
tertentu, yang meliputi laba komprehensif, investasi dan distribusi dari dan
kepada pemilik (investment by and distributions to owner’s)
5. Laporan arus kas (cash flow statement)
berisi seluruh penerimaan dan pengeluaran kas baik yang berasa dari
aktivitas operasional, investasi dan pendanaan dari satu kesatuan usaha selama
satu peride tertentu.
6. Catatan atas pelaporan keuangan (notes of
financial statement)
berisi informasi yang tidak dapat diungkapkan dalam keempat laporan
keuangan di atas, yang mengungkapkan seluruh prinsip, prosdur, metode, dan
teknik yang diterapkan dalam penyusunan laporan keuangan tersebut.
2. Pelaporan Keuangan (Financial Reporting)
Pelaporan keuangan adalah laporan keuangan yang ditambah dengan
informasi-informasi lain yang berhubungan, baik langsung maupun tidak langsung
dengan informasi yang disediakan oleh sistemakuntansi keuangan, seperti informasi tentang sumber daya perusahaan,
earnings, current cost, informasi tentang prospek erusahaan yang merupakan
baian integral dengan tujuan untuk memenuhi tingkat pengungkapan yang
cukup.
Menurut SFAC Nomor 1 tentang Objective of Financial Reporting by Business
Enterprises, tujuan pelaporan keuangan adalah:
a. Menyediakan informasi yang berguna
bagi investor, kreditor, dan pengguna potensial lainnya dalam membantu proses
pengambilan keputusan yang rasional atas investasi, kredit dan keputusan lain
yang sejenis.
b. Menyediakan informasi yang berguna bagi
investor, kreditor, dan pengguna potensial lainnya yang membantu dalam menilai
jumlah, waktu, dan ketidakpastian prospek penerimaan kas dari dividen atau
bunga dan pendapatan dari penjualan, penebusan atau jatuh tempo sekuritas atau
pinjaman. Menaksir aliran kas masuk (future cash flow) pada perusahaan.
c. Memberikan informasi tentang sumber
daya ekonomi, klaim atas sumber daya tersebut dan perubahannya.
Rumusan
tujuan pelaporan keuangan tersebut, berkaitan dengan aspek-aspek sebagai
berikut:
• Informasi yang berguna untuk keputusan kredit dan
investasi.
• Informasi yang berguna untuk menilai prospek arus kas.
• Informasi tentang alokasi sumber daya ekonomi, klaim
dan perubahannya.
Dalam
paragraf berikutnya SFAC mengemukakan bahwa pelaporan harus menyajikan tentang
kinerja dan earnings dari satu kesatuan usaha tersebut, yaitu:
• Pelaporan harus menyediakan informasi tentang kinerja
keuangan perusahaan (financial performance) selama suatu periode tertentu.
• Pelaporan kinerja keuangan tersebut berguna untuk
mengukur earning power dengan seluruh komponennya, karena para pengguna sangat
berkepentingan atas prospek penerimaan kas bersih dari perusahaan.
• Pelaporan keuangan harus menyajikan informasi,
bagaimana manajemen perusahaan mempertanggungjawabkan kepada para
stakeholders¬-nya atas pengelolaan sumber daya ekonomi yang telah dipercayakan
kepada manajemen.
Sementara
itu, bagi organisasi nirlaba (nonbisnis) tujuan pelaporan keuangan akan berbeda
dengan pelaporan keuangan untuk perusahaan bisni. Perbedaan tujuan tersebut
dikarenakan karakteristik organisasi yang berbeda. Berikut adalah karakteristik
dari organisasi nonbisnis, antara lain:
• Tidak terdapatnya indicator kinerja seperti pada
perusahaan bisnis.
• Tujuannya tidak mencari keuntungan.
• Jumlah sumber daya yang diterima dari penyedia sumber
daya, maka penyedia sumber daya tersebut tidak berharap menerima pembayaran
atau manfaat ekonomi dari sumber daya yang diberikannya.
• Hak kepemilikan tidak dapat dijual, ditransfer atau
ditebus, atau tidak terdapat hak untuk memperoleh bagian distribusi sumber daya
residual ketika organisasi tersebut dilikuidasi.
Contoh
organisasi nirlaba adalah yayasan social, lembaga swadaya masyarakat (LSM),
non-government organization (NGO), universitas, unit pemerintahan pusat dan
daerah, dan organisasi keagamaan. Jadi siapa pengguna informasi dari organisasi
nonbisnis ini? Berikut ini merupakan pengguna informasi dari organisasi nirlaba,
diantaranya:
1. Penyandang dana dan pemberi kontribusi.
2. Anggota dari organisasi tersebut yang
memperoleh manfaat dari jasa yang diberikan oleh organisasi tersebut.
3. Badan pengawas yang mengatur dan
bertangungjawab dalam menyusun kebijakan dari organisasi tersebut.
4. Manajer yang mengelola organisasi
tersebut. (Yadiati, 2007:53)
Statement of
Financial Accounting Concepts (SPAC) mengemukakan bahwa tujuan pelaporan
keuangan organisasi nonbisnis sebagai berikut:
a. Memberikan informasi yang berguna
kepada pengguna dalam mengambil keputusan rasional tentang alokasi sumber daya
dalam organisasi.
b. Memberika informasi yang berguna bagi
penyedia sumber daya dalam menilai jasa yang diberikan dalam olhe organisasi
nonbisnis dan kemampuannya untuk meneruskan penyediaan jasa tersebut.
c. Memberika informasi yang berguna
untuk menilai pekerjaan manajemen dan kinerja manajer organisasi nonbisnis
dalam melaksanakan tugasnya, seperti akuntabilitasnya.
d. Memberikan informasi tentang sumber daya
ekonomi, kewajiban, penggunaan sumber daya, (aktivitas organisasi), atau sumber
daya bersih dari organisasi nonbisnis tersebut.
Tujuan
laporan keuangan menurut Trueblood Report dalam diikhtisarikan seperti dalam
gambar 3.2 pada halaman berikut ini. Gambar tersebut menunjukkan struktur
hierarki dari tujuan akuntansi yang dapat dijelaskan sebagai berikut:
• Tujuan dasar laporan keuangan adalah menyediakan
informasi untuk membuat dasar keputusan ekonomi.
• Pemakai informasi memiliki keterbatasan wewenang
informasi. Oleh karena itu, bagaimana laporan keuangan tersebut harus dapat
menyajikan informasi kepada berbagai jenis pengguna yang memiliki segala
keterbatasan.
• Memberikan informasi yang dibutuhkan oleh investor dan
kreditor dalam menaksir earning power dan aliran kas perusahaan, perbandingan
dan evaluasi aliran kas, baik jumlah dan ketidakpastian yang meliputinya.
• Earning power adalah bukan semata-mata kemampuannya
dalam menghasilkan laba bersih semata (akuntansi) tetapi meliputi kemampuan
perusahaan untuk menghasilan kas.
Tujuan
laporan keuangan harus menyajikan informasi yang factual, akurat, objektif, dan
informative yang cukup untuk melakukan penafsiran tentang transaksi-transaksi
bisnis yang berguna untuk memprediksi, membandingkan earning power tersebut.
Perlu diketahui bahwa informasi yang diperlukan untuk penafsiran dan prediksi
tersebut kadang kala bersifat subjektif, oleh Karen aitu, asumsi-asumsi yang
digunakan yang mendasari evaluasi dan prediksi tersebut harus
diungkapkan.
Dari tujuan
pelaporan dalam teori akuntansi yang telah diuraikan di atas, diakui bahwa
kenyatannya masih ada kelemahan yang dirasakan dari konseptual framework
tersebut. Kelemahan tersebut pada akhirnya akan menimbulkan erosi kredibilitas
pelaporan keuangan, seperti berikut ini:
• Beberapa
metode akuntansi diterapkan untuk fakta yang sama.
• Metode
akuntansi kadang diterapkan untuk melakukan praktik income smoothing secara
artificial.
• Laporan
keuangan gagal memberiakn tanda terhadap masalah keuangan perusahaan di masa
mendatang.
• Off
balance sheet financing dianggap praktik lazim.
Yadiati,
Winwin. 2007, Teori Akuntansi – Suatu Pengantar. Jakarta: Kencana. Kata
kunci: contoh laporan, laporan keuangan, pendahuluan laporan, keuangan
perusahaan, manajemen keuangan, akuntansi keuangan, sistem akuntansi, soal
akuntansi, jurnal akuntansi, pengertian akuntansi, manajemen akuntansi,
akuntansi biaya, akuntansi dasar.
14
Tujuan utama manajemen risiko keuangan adalah untuk
meminimalkan potensi kerugian yang timbul dari perubahan tak terduga dalam
harga mata uang, kredit, komoditas, dan ekuitas. Resiko volatilitas harga yang
dihadapi ini disebut dengan resiko pasar. Risiko pasar terdapat dalam berbagai
bentuk. Meskipun volatilitas harga atau tingkat, akuntan manajemen perlu
mempertimbangkan resiko lainnya:
1.
Risiko likuiditas, timbul karena tidak semua produk manajemen dapat
diperdagangkan secara bebas.
2.
Diskontinuitas pasar, mengacu pada risiko bahwa pasar tidak selalu menimbulkan
perubahan harga secara bertahap,
3.
Risiko kredit, merupakan kemungkinan bahwa pihak lawan dalam kontrak manajemen
risiko tidak dapat memenuhi kewajibannya,
4.
Risiko regulasi, adalah risiko yang timbul karena pihak otoritas public
melarang penggunaan suatu produk keuangan untuk tujuan tertentu,
5.
Risiko pajak, merupakan risiko bahwa transaksi lindung nilai tertentu tidak
dapat memperoleh perlakuan pajak yang diinginkan, dan
6.
Risiko akuntansi, adalah peluang bahwa suatu transaksi lindung nilai tidak
dapat dicatat selain bagian dari transaksi yang hendak dilindung nilai.
e MENGAPA
MENGELOLA RISIKO KEUANGAN
Pertama, manajemen eksposur membantu dalam
menstabilkan ekspektasi arus kas perusahaan. Manajemen eksposur yang aktif
memungkinkan perusahaan untuk berkonsentrasi pada risiko bisnisnya yang utama.
Para pemberi saham, karyawan, dan pelanggan juga memperoleh manfaat dari
manajemen eksposur. Pemberi pinjaman umumnya memiliki toleransi risiko lebih
rendah dibandingkan dengan pemegang saham, sehingga membatasi eksposur
perusahaan untuk menyeimbangkan kepentingan pemegang saham dan pemegang
obligasi.
e PERANAN
AKUNTANSI
Akuntansi
manajemen memainkan peran yang penting dalam proses risiko manajemen. Mereka
membantu dalam mengidentifikasikan eksposur pasar, mengkuantifikasi
keseimbangan yang terkait dengan strategi respons risiko alternative, mengukur
potensi yang dihadapi perusahaan terhadap risiko tertentu, mencatat produk lindung
nilai tertentu dan mengevaluasi program lindung nilai.
Kerangka
dasar yang bermanfaat untuk mengidentifikasi berbagai jenis risiko market
berpotensi dapat disebut sebagai pemetaan risiko. Kerangka ini diawali dengan
pengamatan atas hubungan berbagai risiko pasar terhadap pemicu nilai suatu
perusahaan dan pesaingnya. Pemicu nilai mengacu pada kondisi keuangan dan
pos-pos kinerja operasi keuangan utama yang mempengaruhi nilai suatu
perusahaan. Risiko pasar mencakup risiko kurs valuta asing dan suku bunga,
serta risiko harga komoditas dan ekuitas. Mata uang Negara sumber pembelian
mengalami penurunan nilai relative terhadap mata uang Negara domnestik, maka
perubahan ini dapat menyebabkan pesaing domestic mampu menjual dengan harga
yang lebih rendah, ini disebut sebagai risiko kompetitif mata uang yang
dihadapi. Akuntan manajemen harus memasukkan suatu fungsi demikian probabilitas
yang terkait dengan serangkaian hasil keluaran masing-masing pemicu nilai.
Peran lain yang dimainkan oleh para akuntan dalam proses manajemen resiko
meliputi proses kuantifikasi penyeimbangan yang berkaitan dengan alternative
strategi respon risiko. Risiko kurs valuta asing adalah salah satu bentuk
risiko yang paling umum dan akan dihadapi oleh perusahaan multinasional. Di
dalam dunia kurs mengambang, manajemen risiko mencakup:
(1)
antisipasi pergerakan kurs,
(2)
pengukuran risiko kurs valuta asing yang dihadapi perusahaan,
(3)
perancangan strategi perlindungan yang memadai, dan
(4)
pembuatan pengendalian manajemen risiko internal.
Manajer
keuangan harus memiliki informasi mengenai kemungkinan arah, waktu, dan
magnitude perubahan kurs dan dapat menyusun ukuran-ukuran defensive memadai
dengan lebih efisien dan efektif. Potensi terhadap risiko valas timbul apabila
perubahan kurs valas juga mengubah nilai aktiva bersih, laba, dan arus kas
suatu perusahaan. Pengukuran akuntansi tradisional terhadap potensi risiko
valas ini berpusat pada dua jenis potensi risiko: translasi dan transaksi.
Potensi risiko translasi mengukur pengaruh perubahan kurs valas terhadap nilai ekuivalen mata uang domestik atas aktiva dan kewajiban dalam mata uang asing yang dimiliki oleh perusahaan. Karena jumlah dalam mata uang asing umumnya ditranslasikan ke dalam nilai ekuivalen mata uang domestik untuk tujuan pengawasan manajemen atau pelaporan keuangan eksternal, pengaruh translasi itu menimbulkan dampak langsung terhadap laba yang diinginkan. Kelebihan antara aktiva terpapar resiko dengan kewajiban terpapar (yaitu pos-pos dalam mata uang asing yang ditranslasikan berdasarkan kurs kini) menyebabkan timbulnya posisi aktiva terpapar bersih. Posisi ini sering disebut potensi risiko positif. Devaluasi mata uang asing relatif terhadap mata uang pelaporan menimbulkan kerugian translasi. Revaluasi mata uang asing menghasilkan keuntungan translasi. Sebaliknya, jika perusahaan memiliki posisi kewajiban terpapar bersih atau potensi risiko negatif apabila kewajiban terpapar melebihi aktiva terpapar. Dalam kasus ini, devaluasi mata uang asing menyebabkan timbulnya keuntungan translasi. Revalusi mata uang asing menyebabkan kerugian translasi. Potensi risiko transaksi, berkaitan dengan keuntungan dan kerugian nilai tukar valuta asing yang timbul dari penyelesaian transaksi yang berdenominasi dalam mata uang asing. Keuntungan dan kerugian transaksi memiliki dampak langsung terhadap arus kas. Laporan potensi risiko transaksi berisi pos-pos yang umumnya tidak muncul dalam laporan keuangan konvensional, tetapi menimbulkan keuntungan dan kerugian transaksi seperti kontrak forward mata uang asing, komitmen pembelian dan penjualan masa depan dan sewa guna usaha jangka panjang.
Potensi risiko translasi mengukur pengaruh perubahan kurs valas terhadap nilai ekuivalen mata uang domestik atas aktiva dan kewajiban dalam mata uang asing yang dimiliki oleh perusahaan. Karena jumlah dalam mata uang asing umumnya ditranslasikan ke dalam nilai ekuivalen mata uang domestik untuk tujuan pengawasan manajemen atau pelaporan keuangan eksternal, pengaruh translasi itu menimbulkan dampak langsung terhadap laba yang diinginkan. Kelebihan antara aktiva terpapar resiko dengan kewajiban terpapar (yaitu pos-pos dalam mata uang asing yang ditranslasikan berdasarkan kurs kini) menyebabkan timbulnya posisi aktiva terpapar bersih. Posisi ini sering disebut potensi risiko positif. Devaluasi mata uang asing relatif terhadap mata uang pelaporan menimbulkan kerugian translasi. Revaluasi mata uang asing menghasilkan keuntungan translasi. Sebaliknya, jika perusahaan memiliki posisi kewajiban terpapar bersih atau potensi risiko negatif apabila kewajiban terpapar melebihi aktiva terpapar. Dalam kasus ini, devaluasi mata uang asing menyebabkan timbulnya keuntungan translasi. Revalusi mata uang asing menyebabkan kerugian translasi. Potensi risiko transaksi, berkaitan dengan keuntungan dan kerugian nilai tukar valuta asing yang timbul dari penyelesaian transaksi yang berdenominasi dalam mata uang asing. Keuntungan dan kerugian transaksi memiliki dampak langsung terhadap arus kas. Laporan potensi risiko transaksi berisi pos-pos yang umumnya tidak muncul dalam laporan keuangan konvensional, tetapi menimbulkan keuntungan dan kerugian transaksi seperti kontrak forward mata uang asing, komitmen pembelian dan penjualan masa depan dan sewa guna usaha jangka panjang.
e PERLAKUAN
AKUNTANSI
FASB
menerbitkan FAS No 133, yang diklarifikasi melalui FAS 149 pada bulan April
2003, untuk memberikan pendekatan tunggal yang komprehensif atas akuntansi
untuk transaksi derivative dan lindung nilai. Provisi dasar standar ini adalah:
a. seluruh instrument derivative dicatat pada neraca sebagai aktiva dan kewajiban,
b. keuntungan dan kerugian dari perubahan dalam nilai wajar instrument derivative bukankan aktiva atau kewajiban,
a. seluruh instrument derivative dicatat pada neraca sebagai aktiva dan kewajiban,
b. keuntungan dan kerugian dari perubahan dalam nilai wajar instrument derivative bukankan aktiva atau kewajiban,
c.
lindung nilai haruslah sangat efektif agar layak mendapatkan perlakuan
akuntansi khusus, yaitu keuntungan atau kerugian atas instrument lindung niai
secara tepat harus mengimbangi keuntungan dan kerugian sesuatu yang dilindungi
nilai
d. hubungan lindung nilai haruslah terdokumentasi secara lengkap demi manfaat pembaca laporan
d. hubungan lindung nilai haruslah terdokumentasi secara lengkap demi manfaat pembaca laporan
e.
keuntungan atau keruhian dari investasi bersih dalam mata uang asing pada
awalnya dicatat dalam laba komprehensif lainnya
f.
keuntungan atau kerugian lindung nilai terhadap arus kas masa depan yang belum
pasti, seperti perkiraan penjualan ekspor, pada awalnya diakui sebagai bagian
dari laba komprehensif.
Proses
pencapaian tujuan tidak lepas dari hambatan atau kendala yang akan menghalangi
pencapaian tujuan tersebut. MNC sebagai sebuah perusahaan yang beroperasi di
banyak negara harus mampu melimpahkan wewenang kepada manajer anak perusahaan
yang ada di luar negeri. Biaya dari kondisi ini dikenal dengan nama agency
cost. Agency cost pada perusahaan MNC lebih besar daripada agency cost pada
perusahaan domestik. Perbedaan ini dapat terjadi karena beberapa hal seperti,
sulitnya memonitor manajer-manajer dari anak-anak perusahaan yang letaknya jauh
dari negara asal. Manajer-manajer anak perusahaan luar negeri yang tumbuh dalam
budaya yang berbeda mungkin tidak mau mengejar tujuan yang seragam. Besarnya
ukuran dari perusahaan multinasional raksasa juga menciptakan agency cost yang
besar. Besarnya agency cost bervariasi menurut gaya manajemen suatu perusahaan
multinasional. Gaya manajemen terpusat bias mengurangi agency cost karena gaya
semacam ini memungkinkan manajer-manajer perusahaan induk untuk mengontrol anak
perusahaan di luar negeri, sehingga mengurangi kekuasaan manajer-manajer anak
perusahaan. Akan tetapi, manajer-manajer perusahaan induk mungkin tidak sebaik
manajer-manajer anak perusahaan karena manajer-manajer perusahaan induk kurang
memiliki pengetahuan tentang lingkungan anak perusahaan. Sebaliknya, gaya
manajemen terdesentralisasi bias menimbulkan agency cost yang lebih besar jika
manajer-manajer anak perusahaan membuat keputusan-keputusan yang tidak
dilandasi oleh tujuan memaksimumkan nilai perusahaan induk secara keseluruhan.
Gaya manajemen ini memiliki kelebihan lain, yaitu dekatnya manajer-manajer anak
perusahaan ke operasi dan lingkungan anak perusahaan.
Adanya
untung-rugi dari pemakaian salah satu gaya manajemen di atas, sejumlah
perusahaan multinasional berupaya untuk memanfaatkan keunggulan dari kedua gaya
manajemen tersebut. Perusahaan induk memperbolehkan manajer-manajer anak
perusahaan membuat keputusan-keputusan penting mengenai operasi mereka sendiri,
tetapi tetap dimonitor oleh manajemen perusahaan induk untuk menjamin agar
keputusan-keputusan tersebut harmonis dengan tujuan perusahaan induk.
Selain
agency cost, ada beberapa kendala yang dialami oleh perusahaan MNC seperti,
kendala lingkungan, kendala regulatori, dan kendala etika. Kendala lingkungan
dapat dilihat dari perbedaan karakteristik tiap negara. Kendala regulatori
berupa perbedaan peraturan setiap negara yang ada seperti, pajak, aturan-aturan
konversi valuta, serta peraturan-peraturan lain yang dapat mempengaruhi arus
kas anak perusahaan. Kendala etika sendiri digambarkan sebagai suatu praktek
bisnis yang berbeda-beda di tiap negara.MNC, dalam melakukan bisnis
internasionalnya, secara umum dapat menggunakan metode-metode berikut.
1.
Perdagangan internasional
2.
Licensing
3.
Franchising
4.
Usaha patungan
5.
Akuisisi perusahaan
6.
Pembentukan anak perusahaan baru di luar negeri
Metode-metode
bisnis internasional meminta investasi langsung dalam operasi operasinya di
luar negeri atau lebih dikenal dengan sebutan Direct Foreign Invesment.
Perdagangan internasional dan pemberian lisensi biasanya tidak dianggap sebagai
DFI karena keduanya tidak melibatkan investasi langsung dalam operasi di luar
negeri. Franchising dan usaha patungan cenderung meminta investasi langsung,
tetapi dalam jumlah relatif kecil. Akuisisi dan pendirian anak perusahaan baru
merupakan elemen DFI yang paling besar.
Berbagai peluang serta keuntungan sebuah MNC tidak lepas dari risiko yang akan muncul. Walaupun bisnis internasional dapat mengurangi exposure sebuah MNC terhadap kondisi-kondisi ekonomi negara asalnya, bisnis internasional biasanya juga meningkatkan exposure MNC terhadap pergerakan nilai tukar, kondisi ekonomi luar negeri, dan risiko politik. Sebagian besar bisnis internasional meminta pertukaran satu valuta dengan valuta yang lain untuk melakukan pembayaran. Karena nilai tukar terus berfluktuasi, jumlah kas yang dibutuhkan untuk melakukan pembayaran juga tidak pasti. Konsekuensinya, jumlah unit valuta negara asal yang dibutuhkan untuk membayar bisa berubah walaupun pemasoknya tidak mengubah harga. Selain itu, ketika perusahaan multinasional memasuki pasar asing untuk menjual produk, permintaan atas produk tersebut tergantung pada kondisi-kondisi ekonomi dalam pasar tersebut. Jadi, arus kas perusahaan multinasional dipengaruhi oleh kondisi-kondisi ekonomi luar negeri. Risiko potik sendiri muncul pada saat perusahaan multinasional membentuk anak perusahaan di Negara lain, mereka terbuka terhadap risiko politik, yaitu tindakan-tindakan politik yang diambil oleh pemerintah yang dapat mempengaruhi arus kas perusahaan.
Berbagai peluang serta keuntungan sebuah MNC tidak lepas dari risiko yang akan muncul. Walaupun bisnis internasional dapat mengurangi exposure sebuah MNC terhadap kondisi-kondisi ekonomi negara asalnya, bisnis internasional biasanya juga meningkatkan exposure MNC terhadap pergerakan nilai tukar, kondisi ekonomi luar negeri, dan risiko politik. Sebagian besar bisnis internasional meminta pertukaran satu valuta dengan valuta yang lain untuk melakukan pembayaran. Karena nilai tukar terus berfluktuasi, jumlah kas yang dibutuhkan untuk melakukan pembayaran juga tidak pasti. Konsekuensinya, jumlah unit valuta negara asal yang dibutuhkan untuk membayar bisa berubah walaupun pemasoknya tidak mengubah harga. Selain itu, ketika perusahaan multinasional memasuki pasar asing untuk menjual produk, permintaan atas produk tersebut tergantung pada kondisi-kondisi ekonomi dalam pasar tersebut. Jadi, arus kas perusahaan multinasional dipengaruhi oleh kondisi-kondisi ekonomi luar negeri. Risiko potik sendiri muncul pada saat perusahaan multinasional membentuk anak perusahaan di Negara lain, mereka terbuka terhadap risiko politik, yaitu tindakan-tindakan politik yang diambil oleh pemerintah yang dapat mempengaruhi arus kas perusahaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar